Sabtu, 01 Juli 2023

Cerita "NUR"

 PART 1 "ISTANBUL"

Sang Surya menyambut dengan kehanggatan tiada tanding, silauan mata seakan-akan ritual wajib di pagi hari, para penunggang kuda terlihat diujung pegunungan mengiring dan berjalan perlahan.

Istanbul kota yang indah dan tidak Lelah mata memandangnya, ini lah kota peradaban islam yang selalu kental akan budayanya. Hari ini pelabuhan amatlah sepi tidak terlalu banyak kaki-kaki yang berlalu Lalang.

***

Dingin menusuk sampai ke tulang. Nur, gadis berkulit putih dengan tinggi 161 cm itu merekatkan jaket tebalnya. Matanya yang kecil dengan awas mengamati orang-orang yang melintas di depan gang sempit tempatnya berdiri. Sesekali ia berjalan pelan ke arah mana saja, lalu kembali lagi ke tempatnya semula. Aroma parfum dari beberapa orang yang lewat masuk ke hidungnya. Satu dua ekor kucing bergantian mendekatinya.

Nur

Ia melirik arloji, sudah hampir satu jam ia di sana, tapi seseorang yang ditunggunya tak juga datang. Kali ini jantungnya berdegup lebih kencang. Walau ini bukan yang pertama kali, tetapi setiap kali melakukan hal ini, yang dirasakannya adalah ketakutan yang sama. Apalagi tak biasanya Anka yang ditunggunya itu datang terlambat untuk membawakan buku pesanannya, buku karangan Syaikh al-Buthi yang ia butuhkan sebagai penunjang kuliah fiqih.

Sejak lama, buku-buku yang berbau sufi atau salafi susah untuk didapatkan di daerah Distrik. Pemerintah sangat khawatir dengan keberadaan buku-buku semacam itu. Kabar berembus mengatakan, penguasa takut jika buku-buku tersebut memunculkan semangat memberontak dan menggoyangkan kekuasaan negara. Padahal, Nur pun tak peduli soal politik. Ia hanya tahu bahwa ia butuh buku-buku itu untuk dipelajari.

"Selam, kamu terlambat satu jam, Anka!" ucapnya ketika akhirnya pemuda berkulit putih itu datang dihadapannya.

Anka

"Merhaba, Nur. Beberapa polisi mengikutiku begitu aku keluar dari toko. Aku takut kita tertangkap. Jadi, terpaksa aku pulang dulu ke flat dan baru berani ke sini setelah yakin mereka tak mengawasiku lagi".

"Tapi, kamu baik-baik saja, kan?"

" Alhamdulillah. Ini Fiqhus Sirah-mu."

"Tesekkurler. Berapa?"

"Lima belas Lira."

"Ini, pas lima belas Lira." Nur menyerahkan uang pas, kemudian memasukkan bukunya ke dalam tas dengan cepat.

"Syukron. Sebaiknya kamu cepat pergi, aku khawatir. Kalau mereka tahu aku membawa buku ini, mereka pasti menangkap kita. Ana murowwah.Assalamu'alaikum".

"Wa'alaikumussalam.."

Anka menyunggingkan senyumannya yang khas sambil bergegas membalikkan arah sepedanya. Tapi belumlah jauh Anka mengayuh, Nur memanggil.

"Anka!"

Anka berhenti dan membalikkan wajahnya ke arah Nur.

"bugün kampüse gidecek misin? Hari ini kamu ke kampus?"

"Tentu saja tidak. Buat apa aku repot-repot mengantarkan buku ke sini kalau memang ada jadwal ke kampus? Besok lusa Insha allah aku ke kampus untuk bertemu dengan Ustadz Salem."

"Ooh, oke kalau begitu."

Anka mengakhiri pembicaraan dan segera pergi dengan sepedanya, menembus waktu, meninggalkan Nur sendirian di Lorong gang yang bahkan tak satu pun penghuni di sepanjang jalan itu yang ia kenal. Ia hanya berpikir bahwa ini adalah tempat yang aman di antara bising suara klakson dan mesin kendaraan.

Nur tersenyum kecil, menertawakan kebodohannya atas pertanyaanya untuk Anka barusan. Tentu saja, Anka tak akan datang ke kampus, Nur juga tahu itu. Tak perlu ditanya lagi. Tapi, ia tetap saja bertanya. Sebab, ada yang berbeda dengan perasaanya jika bertemu dengan Anka belakangan ini. Sudah beberapa lama mereka sering melakukan pertemuan rahasia semacam itu demi sebuah buku yang dibutuhkan Nur.

***

Di Distrik, buku-buku tertentu dilarang beredar. Toko buku tak pernah lagi memajang buku-buku agama kental di etalasenya. Mereka tak mau menanggung resiko tokonya ditutup atau yang lebih parah dikenakan sanksi dan dihakimi aparat. Sebagaimana Nur, yang tidak pernah mempunyai nyali untuk membeli buku-buku tersebut di toko lain.

Syukurlah ada Anka, seorang mahasiswa Indonesia yang sedang menyusun tesis dan menggunakan waktu luangnya untuk membantu para mahasiswa asal Indonesia lain dalam mendapatkan buku yang mereka cari. Ankalah yang banyak membantu Nur mendapatkan buku-buku "terlarang". Biasanya, Anka hanya perlu membawa buku yang dimaksud ke kampus untuk diantar langsung pada Nur. Tapi, tak jarang juga keduanya melakukan pertemuan rahasia semacam itu, terutama jika Anka sedang tak ada urusan untuk datang ke kampus.

***

Nur berjalan meninggalkan gang padat penduduk itu. Bersama langkah kakinya menyusuri jalan menuju kampus, ia tak henti membayangkan senyuman Anka, sebelum meninggalkannya tadi. Memang, terkadang Nur menganggap bahwa perhatian Anka sedikit berlebihan, bukan sekedar perhatian sebagai sesama mahasiswa Indonesia. 

Namun, ada yang lebih dari itu, setidaknya begitulah yang ia rasakan. Tapi, kemudian Nur mencoba menyadari bahwa bisa saja dirinya yang berlebihan dalam menerjemahkan sikap Anka padanya. Anka tentu hanya membantu, tak lebih. Bahkan, pastinya bukan hanya dirinya yang sering dibantu oleh pemuda bertubuh tinggi itu.

Buku-buku terlarang seperti yang kini dibawanya itulah yang kemudian menyatukannya dengan Anka dan Lamea dalam sebuah persahabatan. Lamea adalah gadis Ankara yang juga teman sekelas Nur di kampus. Nur pula yang semula mengenalkan Anka pada gadis putih berdarah Prancis-Ankara itu dalam sebuah pertemuan rahasia demi mendapatkan kitab karangan Syaikh Qardhawi. Selanjutnya, ketiganya seperti menemukan tempat yang tepat untuk saling berdiskusi mengenai banyak hal.

Lamea


Taman luas di seberang kampus adalah tempat favorit mereka. Mereka biasanya duduk di bawah pohon yang rindang, pohon yang mengingatkan Nur pada pohon beringin di Indonesia. Hanya saja, pohon di sini berbuah seperti buah ceri. Sesekali buahnya itu jatuh di antara mereka. Membuat diskusi beralih dari materi kampus ke sebuah diskusi yang mempertanyakan kebenaran tentang teori gravitasi. Tentu saja, bukan menyangkal teori gravitasinya.  Tapi, benarkah teori gravitasi muncul karena apel yang jatuh ke kepala Newton? Sementara kitab-kitab yang mereka pelajari mengatakan bahwa hukum gravitasi bahkan sudah ditemukan jauh sebelum Newton kejatuhan apel. 
Lalu dari situ, diskusi beralih lagi pada sejarah Islam. Ya, diskusi di antara ketiganya selalu berlangsung seperti itu. Seolah ada begitu banyak pemikiran yang berlalu-lalang di kepala dan semua saling berlarian, berdesakan ingin termuntahkan, tak terbendung.

Kadang juga, diskusi-diskusi yang tak pernah selesai itu membuat perut mereka keroncongan dan tak ada pilihan lain selain membeli makanan dan minuman di ujung taman. Itulah satu-satunya kantin yang dekat. Kecuali jika Nur dan Lamea tak ada kuliah lagi, mereka bertiga akan makan gratis di rumah Lamea. Dengan hidangan sarma dan baklava roll, bahkan kadang sisa pide di pagi hari pun mereka lahap juga.

Nur masih ingat bagaimana awalnya mereka berteman seperti ini. Pertanyaan Lamea sangat menggelitik baginya di awal jumpa, "Apakah kamu orang Islam yang shalat?" Itu pertanyaan yang cukup aneh bagi Nur. Namun, pertanyaan itu malah mengantarkannya pada pertanyaan pertanyaan lainnya tentang Istanbul.

"Maksudmu?"

"Bukan begitu, tapi kebanyakan muslim di sini tidak berani menunjukkan identitasnya sebagai muslim. Di sini kemungkinannya hanya ada dua ... shalat dengan sembunyi sembunyi atau tidak sama sekali. Sebab, tidak semua orang berani shalat di tempat umum." Jawaban Lamea membuat Nur secara spontan memandangi orang-orang di sekitarnya dan bertanya, "Apakah mereka juga?"

"Ya, kebanyakan begitu."

Nur tak bisa menyembunyikan keheranannya, 99 persen muslim di negara ini. Jumlah yang sangat besar, harusnva bukan sekedar kaum mayoritas, Mereka tentu memiliki otoritas penuh untuk menjalankan ibadah dan apa pun yang bersifat islami. Keningnya berkerut, memandangi sekeliling, lalu menatap ke sebuah bangunan megah di hadapanya. Kampus Istanbul. Sebuah kampus pengajaran agama islam.

Jika berpatokan pada usia, seharusnya di tempat inilah peradaban Islam berpusat. Lalu bagaimana bias mayoritas muslim di sini tidak menjalankan rukunnya? Bagaimana mungkin ia tidak mengetahui hal tersebut sebelum ia memutuskan untuk melanjutkan S2 di Distrik?

"Kau heran,ya?" tanya Lamea, menjelaskan bahwa ia bisa memahami apa yang ada dalam pikiran Nur.

"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Di luar sana di sebuah tempat, Islam masih sangat dimuliakan." Lamea menepuk pelan bahu Nur. Membuat gadis bertubuh kurus dan berkulit putih itu terentak dari lamunannya. Lalu ia tersenyum, begitu pun Lamea.

"Kau sudah tahu di mana kelasmu?"

Nur menggeleng.

"Kamu mengambil jurusan apa di sini?" Lamea bertanya sambil terus berjalan pelan menaiki tangga di gerbang universitas, membuat Nur mau tak mau melangkah mengikutinya. Mereka terus berjalan mengarah ke bangunan tua berwarna kecokelatan, gedung yang kukuh dan eksotik.

"Oya? Kebetulan sekali. Aku juga mengambil jurusan yang sama di sini."

Mendengar ucapan Lamea itu, mendadak segala ketegangan di hati Nur luruh. Seolah takdir memang membawa Lamea ke hadapannya, mereka dipertemukan di gerbang universitas ketika Nur tampak kebingungan.

"Kalau begitu, mari kita cari kelas kita bersama-sama. Bersama selalu lebih baik, kan?" ujar Lamea sumringah.

Nur hanya mengangguk dan tertawa kecil sambil sedikit membungkukkan kepalanya, pertanda ia setuju dengan apa yang dikatakan Lamea. Ya, setidaknya kini ia tak perlu repot mencari teman. Seorang teman baru sudah datang dengan sendirinya.

Sejak itu, mereka tak hanya berteman. Intensitas pertemuan di dalam kelas dan kebaikan-kebaikan Lamea membuat Nur tak pernah ragu menganggapnya sahabat. Lamea pula yang membuatnya lupa akan perasaan sepi tinggal di negeri orang. Bahkan, terkadang Lamea seperti saudaranya. Nur tak pernah tahu bagaimana rasanya memiliki saudara perempuan, bahkan saudara laki-laki pun ia tak punya. Lamea membuatnya tahu akan rasanya bersaudara. Tak memandang bahwa dirinya adalah gadis dari negara lain yang kulturnya berbeda, begitu pun fisik, dan cara berpakaian.

★★★

Tak seperti dirinya yang berpakaian dan berhijab dengan gaya "modern", tidak begitu dengan Lamea. Lamea adalah seorang gadis dengan hijab panjang. Tak pernah ia memakai pakaian berwarna mencolok mata. Jika tidak serba hitam, ya biru tua, cokelat, atau abu-abu. Lamea tak pernah memakai warna lainnya selain warna-warna tadi. Tapi, segala atributnya itu tak pernah menghalangi keduanya untuk menjadi dekat.

Lamea pernah berkata pada Nur, "Pakaianku ini hanya atribut dan tidak akan membatasi persahabatanku denganmu. Apa yang kupakai tak membuatku merasa terjamin bahwa aku lebih baik dari pada engkau. Belum tentu hatiku juga lebih baik darimu. Tetaplah Allah yang lebih berhak menentukan siapa yang lebih baik, Nur. Kau sudah berhijab dan menutupi auratmu dengan caramu yang sekarang. Itu cukup bagus menurutku. Perkara bagaimana jilbabmu itu kelak berproses, biarlah itu berproses secara natural, dan berangkat dari kesadaranmu sendiri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerita "NUR"

 PART 1 "ISTANBUL" Sang Surya menyambut dengan kehanggatan tiada tanding, silauan mata seakan-akan ritual wajib di pagi hari, para...